Jumat, 11 April 2008

Jembrana Regency Tourism

(Source ; balitravels.org)
For those traveling by land and ferry from Java to Bali, the regency of Jembrana is where the discovery of Bali begins. The distance between two islands is a mere 4 km. The ferry ports of Ketapang in Java and Gilimanuk in Bali, first opened in the 1970s, have been recently upgraded and can now handle the massive transportation needs between the two islands.

The fate of Bali has been intermingled with that of Java for centuries. It is said that Hinduism was first introduced to Bali in the 5th by a holy man Empu Markandeya, who lived originally on the slopes of Mount Raung, just across the strait. The Majapahit warriors are also thought to have attacked Bali through Jembrana. And in the 16th century, the great Hindu saint Dang Hyang Nirartha First landed in Purancak while fleeing from the court of Blambangan.

The area is heavily forrested, has long been considered a buffer zone between Java and Bali. With the integration of Bali within the Dutch colonial empire, it became increasingly subjected to Javanese and Madurese influences. The area is arguably the most ethnically heterogenous in Bali. Some villages are ethnically mixed, as the Madurese settled along the coast.

The Loloan area is populated by a Malay speaking population of Bugis descent. There are also many Balinese Christians, as part of Jembrana was made into a settlement area for Balinese who converted to Catholicism and Protestanism at the beginning of the century.

The nature scene is no less varied than its culture. Jembrana covers no less than 841 km�, much of which is made up of an uninhabited mountain massif in the North. In the South, the coastline comprises 71 km of beach.

The sand is mostly of volcanic origin, hence black, but there are also beautiful white coral beaches especially in Medewi- and mangrove forest. Southern Jembrana has also some of the most beautiful rice terraces in the island. Roughly half of the territory of Jembrana, mostly in the mountain, is part of the West Bali National Park.

Balinese Life

(Source ; bali-tourism-board.com)


The strong cultural identity of Bali is based on a combination of closely related elements that include its unique religion, its language, its castes, its community life, and its art.
Although the official language is Indonesian, Balinese remains the everyday language of the people of the island.


The ancient caste system -- still alive but no longer of any official or formal significance -- divides the Balinese into four distinct castes: Priests ('Brahmana'), Rulers ('Ksatria'), Warriors ('Wesia'), and commoners ('Sudra'). Unlike India, Balinese Hinduism has no 'untouchable' caste. Ninety percent of Balinese are commoners, while the remaining ten percent are divided among the three higher castes.


Numerous ceremonies mark the progression of life in Bali, starting, of course, with birth. Children are treated with respect and gentleness; corporal punishment is rare. In adulthood, marriage becomes compulsory and represents the individual's official entry into the community as an adult. Subsequently, participation in the meetings of the Banjar (village association that manages village affairs) becomes obligatory.


The management of the all-important water supply falls under another essential community organization called the Subak, to which each village landowner belongs. Bali's irrigation system, unique in the world, is managed by these associations, which ensure the fair distribution of water and carry out the traditional ceremonial rites to the gods of agriculture.


No discussion of Bali is complete without mentioning Bali's native inhabitants, the so-called 'Bali Aga'. They are the descendants of the first known inhabitants of Bali, and their customs are of prehistoric origin -- long before the arrival of Hinduism. Now their culture represents a unique combination of their animistic origins and Balinese Hinduism. There are only a few villages of Bali Aga left; the two best known are Tenganan in Karangasem and Trunyan in Kintamani, Bangli.

Goverment Tourism Office

(source ; .bali-tourism-board.com)

The following government tourism offices can provide assistance and information in their respective areas:

BALI (PROVINCIAL) TOURISM AUTHORITY
Jl. S. Parman, Renon
Denpasar - Bali 80235
Indonesia
Tel: +62-361-226313
Fax: +62-361-222387
Email: promotion@balitourismauthority.net




BADUNG REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Raya Kuta 2
Denpasar - Bali
Indonesia
Tel: +62-361-756175
Fax: +62-361-756176
Email: diparda@badung.co.id
Home Page : www.badungkab.go.id



BANGLI REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Sriwijaya 23
Bangli - Bali 80613
Indonesia
Tel: +62-366-91537
Fax: +62-366-92739
Home Page : www.banglikab.go.id



BULELENG REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Veteran 23
Singaraja - Bali
Indonesia
Tel: +62-362-25141
Fax: +62-362-22380
Home Page : www.bulelengkab.go.id



DENPASAR CITY TOURISM OFFICE
Jl. Surapati 7
Denpasar - Bali
Indonesia
Tel : +62-361-234569
Fax: +62-361-223602
Home Page : pariwisata.denpasarkota.go.id



GIANYAR REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Manik 12B
Gianyar - Bali 80511
Indonesia
Tel: +62-361-943401
Fax: +62-361-943554
Email: dipargin@denpasar.wasantara.net.id
Home Page : gianyartourism.com



JEMBRANA REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Surapati 1
Negara - Bali
Indonesia
Tel: +62-365-41210
Fax: +62-365-41010
Home Page : www.jembranakab.go.id



KARANGASEM REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Diponegoro
Amlapura - Bali
Indonesia
Tel : +62-363-21196
Fax : +62-363-21196
Home Page : www.pemdakarangasem.go.id



KLUNGKUNG REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Surapati 3
Semarapura - Bali
Indonesia
Tel : +62-366-21448
Fax : +62-366-21246
Home Page : budpar.klungkungkab.go.id



TABANAN REGENCY TOURISM OFFICE
Jl. Gunung Agung
Tabanan - Bali
Indonesia
Tel: +62-361-811602
Fax: +62-361-812703



Bali Travels
Home Page : www.bali-travelnews.com

Jembrana Tourism Object




Bunut Bolong >>

Pantai Pengeragoan >>

Pantai Medewi >>

Pura Rambut Siwi >>

Delod Berawah >>

Pantai Perancak >>

Pantai Baluk Rening >>


Pantai Candikusuma>

Bendungan Palasari>

Sangkaragung >>

Musium Manusia Purba >>

Gilimanuk >>

Taman Nasional Bali Barat >>

Sumber jembranakab.go.id: Bunut Bolong terletak di desa Manggisari kecamatan Pekutatan, 49 km ke arah timur dari kota Negara dan kurang lebih kurang 86 km kearah barat Kota Denpasar. Bunut Bolong adalah pohon Bunut yang tumbuh lestari di mana di tengah akar akarnya terdapat jalan raya yang menghubungkan kecamatan Pekutatan dengan Kabupaten Buleleng.

Yang menarik adalah alam lingkungannya sepanjang mata memandang penuh dengan pohon cengkeh, udara sejuk dan sangat cocok untuk Wana Wisata. Terdapat pura Bujangga Sakti yang dipelihara dan merupakan tempat Pemujaan Umat Hindu.







Pantai Pengeragoan

Obyek wisata ini terletak di Desa Pengeragoan, kecamatan Pekutatan, tepatnya di Pintu Gerbang Timur Kabupaten Jembrana, berbatasan dengan Kabupaten Tabanan, di pinggir selatan jalan raya yang menghubungkan Gilimanuk-Denpasar.

Pantai berpasir hitam dengan deburan ombak Samudra Indonesia dan lambaian pohon nyiur dan pandan ini cocok untuk tempat istirahat sejenak bagi wisatawan. di bagian utara Desa Pengeragoan, merupakan tempat terindah untuk menikmati pemandangan Pantai Pengeragoan.






Pantai Medewi

Pantai Medewi adalah Pantai yang cukup indah dengan lekuk pantai yang sangat menawan, terletak di Desa Medewi 24 Km timur kota Negara dan 72 Km dari Denpasar, dapat dicapai dengan segala jenis kendaraan.

Pantai Medewi cocok untuk tempat surfing karena ombaknya yang panjang dan lama baru pecah sesuai sarat surfing yang diinginkan. Dari sini dapat menikmati Sunset yang indah. Fasilitas yang dimiliki Hotel yang cukup reprentatif bagi wisatawan Manca Negara dilengkapi dengan kolam renang dan Retauran yang ditata cukup artistik di halaman hotel tersebut.





Pura Rambut Siwi

Rambut Siwi terletak 18 Km arah ke timur dari Kota Negara dan 78 Km arah ke barat dari kota Denpasar. Dapat dicapai dengan semua jenis kendaraan serta tempat parkir yang cukup luas.
Disini terdapat pura Sad Kahyangan dan dibangun erat kaitannya dengan kedatangan seorang Pendeta dari Majapahit yang melakukan perjalanan keagamaan ke Bali dan singgah di tempat ini untuk memberikan ajaran Agama Hindu. Karena hormatnya penduduk setempat kepada sang pendeta yang bernama Dang Hyang Nirartha itu, dimintalah rambutnya untuk dipuja dan disimpan di Pura ini sehingga nama Pura ini disebut Pura Rambut Siwi. Dari Pura ini pula dapat kita menikmati pemandangan laut lepas dan matahari terbenam/ Sunset dengan bentangan sawah yang luas, serta pemandangan gunung yang jauh, menambah pesona bagi para pengunjung.



Objek Wisata Perancak

Obyek Wisata Perancak merupakan sebuah obyek wisata yang indah, bibir pantai yang dihiasi perahu-perahu nelayan merupakan suatu keindahan tersendiri untuk dinikmati.

Disini juga terdapat taman wisata yang memiliki fasilitas sirkuit Motor Cross dan Road Race, disini sangat cocok untuk tempat berlibur.

Setiap tahun obyek wisata perancak dijadikan tempat untuk lomba sampan dayung tradisional yang biasanya dirangkaikan dengan HUT kota Negara.

Di Desa Perancak terdapat tempat Pelestarian Penyu Laut yaitu "Kurma Asih" karena Pantai Perancak sangat cocok untuk tempat bertelor bagi Penyu. Ditempat ini wisatawan dapat menikmati keindahan pantai dan melakukan kegiatan pelepasan Tukik/Anak Penyu ke Laut.

Disamping tempat pelestarian Penyu di desa Perancak juga terdapat Pusat Riset Teknologi Kelautan, stasiun Bumi NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) yang berfungsi untuk menentukan titik-titik berkumpulnya ikan di laut yang dipantau dari satelit. Pada lokasi yang sama wisatawan juga dapat melihat hamparan tumbuhan bakau yang beraneka ragam jenisnya. Di desa Perancak juga terdapat tempat penyulingan air laut menjadi air mineral yang berkadar Oksigen Tinggi yaitu Megumi.



Pantai Baluk Rening

Baluk Rening merupakan salah satu pantai di kabupaten Jembrana ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun manca negara terletak lebih kurang 10 Km ke arah barat dari kota Negara.

Pantai yang berpasir hitam cukup bagus serta alunan ombak yang tidak begitu besar. Tetapi cukup nikmat pada waktu pagi hari maupun sore hari yakni melihat matahari terbenam ( Sunset), dengan latar belakang pegunungan di Jawa Timur. Obyek wisata pantai ini juga sangat menarik dengan adanya tebing tebing dibibir pantai yang cukup tinggi sehingga menambah panorama yang sangat indah di bagian selatan.

Fasilitas yang cukup memadai baik hotel maupun restaorannya memiliki standar untuk wisatawan maca negara.



Pantai Candikusuma

Pantai Candikusuma terLetak kurang lebih 12 Km ke arah barat dari kota Negara , dan merupakan salah satu pantai wisata di Kabupaten Jembrana yang cukup baik untuk mandi dan berenang.

Di Candi kusuma juga ada peninggalan sejarah yakni sebuah tugu yang membentuk segi tiga yang konon di tempat tugu itu pernah keluar keris yang memancarkan sinar. Obyek wisata ini juga dipakai sebagai tempat finish lomba Jukung layar yang biasanya diadakan setiap bulan Agustus dikaitkan dengan peringatan HUT RI dan HUT kota Negara.
Di pantai ini juga sering dipakai untuk kegiatan lomba mancing.





Bendungan Palasari

Obyek wisata Bendungan Palasari berlokasi di Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, 26 Km ke arah barat dari kota Negara. Bendungan ini berfungsi sebagai pengendali bencana banjir, irigasi, perikanan dan tempat rekreasi. Bendungan ini dilatar belakangi oleh hutan lindung yang cukup bagus serta mempunyai hawa sejuk. Sehingga cocok untuk wisata tirtha serta wana wisata di daerah sekitarnya. Bendungan ini sudah dilengkapi dengan sampan yang berekreasi mengelilingi bendungan tersebut.








Sangkaragung


Desa Sagkaragung terletak di Kecamatan Negara kurang lebih 5 Km kearah timur kota Negara. Di Desa Sangkaragung terdapat pusat kesenian khas Jembrana yaitu " Jegog ".

Desa Sangkaragung terkenal didunia dengan kesenian Jegognya terutama di Jepang. Jegog Sangkaragung tampil di Jepang setiap tahunnya lebih dari tiga kali. Sedangkan didesa Sangkaragung sendiri Jegog dipentaskan untuk wisatawan setiap hari Minggu dan Kamis di Sanggar Jegog Suar Agung. Wsatawan dapat belajar memainkan (menabuh) jegog di sanggar ini.



Gilimanuk

Gilimanuk terletak di ujung barat pulau Bali merupakan pintu gerbang masuknya wisatawan melalui jalan darat yang datang dari pulau Jawa. Terdapat beberapa tempat yang menarik diantaranya : Teluk Gilimanuk yang sangat cocok untuk menikmati wisata tirta dan Taman Nasional Bali Barat. Di Gilimanuk telah tersedia penginapan, restauran atau rumah makan dan juga kedai kedai untuk suvenir.













Museum Manusia Purba


Sejak tahun 1963 di Gilimanuk diadakan penelitian oleh para ahli di Indonesia antara lain : Prof DR R Soejono dan Prof DR T Jacub. Hasil penelitian tersebut ditemukan ratusan rangka manusia yang diperkirakan hidup pada akhir masa Prasejarah dengan ciri ciri Ras Mongolid. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka salah satu tindakan untuk menyelamatkan.

Untuk menyelamatkan dan memanfaatkan temuan akeologi tersebut Pemerintah Kabupaten Jembrana membangun sebuah Gedung Museum Manusia Purba Situs Gilimanuk dan selesai Pembangunannya 1993.

Barang barang koleksi yang dipajang di Moesium Gilimanuk adalah hasil galian antara lain : Kerangka Manusia , Manik manik, Gelang dari kayu dan kerang, periuk kecil, tempayan, kendi, mangkuk dari tanah, mata kail, tajak, sarkopagus dll.



Taman Nasional Bali Barat

Taman Nasional Bali Barat sebagai kawasan pelestarian alam, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, rekreasi dan menunjang budidaya. Ciri khas Taman Nasional Bali Barat adalah terdapatnya burung jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang dapat hidup di alam bebas hanya di Taman Nasional Bali Barat. Secara Administratif Taman Nasional Bali Barat Berada di kabupaten Jembrana dan Buleleng Propinsi Bali. Diantara bulan Desember hingga Maret curah hujan di wilayah ini cukup tinggi.

Selasa, 08 April 2008

Jembrana Map

social and Culture

Seperti halnya Daerah Bali Pada umumnya, di Kabupaten Jembrana juga terdapat kesenian-kesenian khas Daerah Jembrana seperti Kesenian Jegog, Joged Bung-bung, Bungbung Gebyog, dan Kendang Mebarung yang tidak terdapat pada Daerah Bali Lainnya.


Kesenian Jegog

Memanfaatkan bambu yang dirangkai sebagai alat intrumennya yang menghasilkan instrumen/irama yang sangat merdu untuk dinikmati. Jegog pertama kali berkembang di banjar sebual desa Dangintukadaya yang diciptakan oleh Kiang Gelinduh. Kesenian Jegog disertai tarian yang biasanya dibawakan oleh beberapa orang remaja putri/putra









Kesenian Joged Bungbung

Kesenian ini juga memakai bambu sebagai alat instumenya yang disebut Gamelan. Dari segi ukuran Gamelan Joged Bungbung ini lebih kecil dibandingkan dengan Gamelan Jegog. Kesenian Joged Bungbung ini selalu disertai tarian yang dibawakan oleh remaja putri dengan mengenakan pakaian khas Jembrana, sehingga menghasilkan tontonan yang sangat menarik.





Kesenian Kendang Mebarung

Kesenian ini memanfaatkan Kendang yang sangat besar ukurannya, yang biasanya dimainkan oleh 2 orang untuk masing masing kendang tersebut.


Kesenian Bungbung Gebyog

Menggambarkan ibu-ibu rumah tangga yang sedang menumbuk padi. Bungbung Gebyog ini biasanya dibawakan oleh beberapa orang wanita yang sudah berkeluarga. Masing-masing penari membawa sebuah bambu yang menggambarkan sebagai alu untuk menumbuk padi, dari ketukan bambu tersebut dihasilkan irama yang merdu untuk dinikmati.

Jembrana History

jembranakab.go.id : Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dapat di interprestasikan bahwa munculnya komunitas di Jembrana sejak 6000 tahun yang lalu. Dari perspektif semiotik, asal-usul nama tempat atau kawasan mengacu nama-nama fauna dan flora. Munculnya nama Jembrana berasal dari kawasan hutan belantara(Jimbar-Wana) yang dihuni raja ular(Naga-Raja). Sifat-sifat mitologis dari penyebutan nama-nama tempat telah mentradisi melalui cerita turun-temurun di kalangan penduduk. Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan(folklore) yang muncul telah memberi inspirasi di kalangan pembangun lembaga kekuasaan tradisional (raja dan kerajaan)

Raja dan pengikutnya yaitu rajyat yang berasal dari etnik Bali Hindu maupun dari etnik non Bali yang beragama Islam telah membangun kraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di kraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain kraton, diberikan pula rakyat pengikut(wadwa),busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama "Ki Tatas" untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Kraton (Puri) Agung Jembrana.

Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, Kraton (Puri) baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Kraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Kraton (Puri) Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Kraton (Puri) Agung Negara.

Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 - 1855). Ketika berlangsung pemerintahannya lah telah ditanda tangani piagam perjanjian persahabatan bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849.

Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi. Pemerintahan daerah Regentschap yang dikepalai oleh seorang kepala pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 - 1882).

Pada masa Kerajaan Jembrana VI I Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 - 1866) mengalami dua peralihan status yaitu 1855 - 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 - 1866 sebagai status Regent (Bupati) kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan Jembrana.

Ketika reorganisasi pemerintahan di daerah diberlakukan berdasarkan Staatblad Nomor 123 tahun 1882, maka untuk wilayah aadministratif Bali dan Lombok diberi status wilayah administratif Keresidenan tersendiri. Wilayah Keresidenan Bali dan LOmbok dibagi lagi menjadi dua daerah (Afdelingen) yaitu Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana berdasarkan Staatblad Nomor 124 tahun 1882 dengan satu ibukota yaitu Singaraja. Selanjutnya daerah Afdeling Jembrana terbagi atas distrik-distrik yang pada waktu itu terdiri dari tiga distrik yaitu Distrik Negara, Distrik Jembrana, dan Distrik Mendoyo. Masing-masing distrik dikepalai oleh seorang Punggawa. Selain distrik juga diberlakukan jabatan Perbekel, khusus yang mengepalai komunitas Islam dan komunitas Timur Asing sebagai kondisi daerah yang unik dari sudut interaksi dan integrasi antar etnik dan antar umat beragama.

Sejak reorganisasi tahun 1882 telah ditetapkan dan disyahkan nama satu ibukota untuk Keresidenan Bali dan Lombok yaitu Singaraja, yang akan membawahi daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Akan tetapi, pada proses waktu selanjutnya memperhatikan munculnya aspirasi masyarakat di dua daerah afdeling (Buleleng dan Jembrana), maka pihak Gubernemen menanggapi positif.

Respon positif pihak Gubernemen di Batavia dapat dibuktikan dengan diterbitkannya sebuah Lembaran Negara (Staatsblad) tersendiri untuk melakukan pembenahan (Reorganisasi) tata pemerintahan daerah di daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Pihak Gubernemen dan segenap jajaran bawahan di Departemen Dalam Negeri (Binnenlandsch Bestuur) sangat memperhatikan dan mendukung sepenuhnya aspirasi masyarakat untuk menetapkan nama-nama ibukota Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Pihak Gubernemen dalam pertimbangannya ingin mengakhiri kebiasaan yang menyebut nama Ibukota Afdeling Buleleng dan Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok dengan nama lebih dari satu. Semula ( Tahun 1882-1895) hanya diberlakukan satu nama Ibukota yaitu Singaraja untuk wilayah Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak disetujui dan untuk kemudian, ditetapkanlah nama-nama Ibukota daerah tersendiri terhadap Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok. Berdasarkan Staatsblad Van Nederlandsch - Indie Nomor 175 Tahun 1895, sampai seterusnya ditetapkanlah Singaraja dan Negara sebagai ibukota dari masing-masing Afdeling. Dengan demikian, sejak 15 Agustus 1895 berakhirlah nama satu ibu kota : Singaraja sebagai ibukota Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak itu pula dimulailah nama-nama Ibukota : Singaraja untuk Keresidenan Bali dan Lombok dan Daerah bagiannya di Afdeling Buleleng, serta Negara untuk Daerah Bagian Afdeling Jembrana.

Munculnya nama-nama Jembrana dan Negara hingga sekarang, memiliki arti tersendiri dari perspektif historis. Rupanya nama-nama yang diwarisi itu telah dipahatkan pada lembaran sejarah di Daerah Jembrana sejak digunakan sebagai nama Kraton ( Puri ) yaitu Puri Gede / Agung Jembrana dan Puri Agung Negeri Negara. Oleh Karena Kraton atau Puri adalah pusat birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional, maka dapat dikatakan bahwa Jembrana dan Negara merupakan Kraton-kraton (Puri) yang dibangun pada permulaan abad XVIII dan permulaan abad XIX adalah tipe kota-kota kerajaan yang bercorak Hinduistik. Jembrana sebagai sebuah kerajaan yang ikut mengisi lembaran sejarah delapan kerajaan (asta negara) di Bali.

Sejak 1 Juli 1938, Daerah (Afdeling, regentschap) Jembrana dan juga daerah-daerah afdeling (Onder-afdeling, regentschap) lainnya di Bali ditetapkan sebagai daerah-daerah swapraja (Zelfbestuurlandschapen) yang masing-masing dikepalai oleh Zelfbestuurder (Raja). Raja di Swapraja Jembrana ( Anak Agoeng Bagoes Negara ) dan Raja-raja di swapraja lainnya di seluruh Bali terlebih dahulu telah menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintah Gubernemen.

Anak Agung Bagoes Negara memegang tampuk pemerintahan di swapraja Jembrana secara terus-menerus selama 29 tahun meskipun terjadi perubahan tatanegara dalam sistem pemerintahan. Kepemimpinannya di Jembrana berlangasung paling lama dibandingkan dengan kepemimpinan yang dipegang oleh pejabat-pejabat pelanjutnya.Selama kepemimpinannya pula, dua nama yaitu Jembrana dengan ibukotanya Negara senantiasa terpateri dalam lembaran sejarah pemerintah di Jembrana, baik dalan periode Pendudukan Jepang (Tahun 1943-1945), peiode Republik Indonesia yang hanya beberapa bulan(Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Indonesia Timur(Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia(Tahun 1950-1958).

Jabatan Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Jembrana untuk pertama kalinya dijabat oleh Ida Bagus Gede Dosther dari tahun 1959 sampai tahun 1967. Pada periode selanjutnya jabatan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jembrana dijabat oleh Bupati Kapten R. Syafroni (Tahun 1967-1969); Pjs Bupati Drs. Putu Suasnawa (11 Maret - 30 Juni 1969); Bupati I Ketut Sirya (30 Juli 1969-31 Juli 1974); Pjs Bupati Drs. I Nyoman Tastra (31 Juli 1974 - 28 Juli 1975); Bupati Letkol. Liek Rochadi (28 Juli 1975 - 26 Agustus 1980); Bupati Drs. Ida Bagus Ardana (26 Agustus 1980 - 27 Agustus 1990); Bupati Ida Bagus Indugosa,S.H Selama dua kali masa jabatan (27 Agustus 1990 - 27 Agustus 1995 dan dari 27 Agustus 1995 - 27 Agustus 2000); Plt Bupati I Ketut Widjana, S.H (28 Agustus 2000 - 15 Nopember 2000) dan Prof.Dr.drg. I Gede Winasa menjabat sebagai Bupati Jembrana sejak 15 Nopember 2000 sampai saat ini.

Dapat dikatakan bahwa, sejak gelar "Bupati" yang mengepalai pemerintahan di Daerah Tingkat II Jembrana untuk pertama kali diberlakukan pada tahun 1959 sampai saat ini, nama "Negara" sebagai ibukota Daerah Kabupaten Jembrana tetap dilestarikan.

Momentum historis yang sungguh-sungguh terjadi itu sudah berlalu dan saat ini 15 Agustus 2002, "Negara" senagai ibukota Jembrana senantiasa terpatri dalam sejarah permerintahan di Jembrana.

Jembrana Event

Makepung

Mekepung adalah sebuah kompetisi, yang menggunakan kerbau sebagai penarik kendaraan yang disebut dengan cikar. Kerbau tersebut dihiasi dengan hiasan kepala yang sangat menarik dengan warna keemasan. Panjang lintasan yang dilalui sekitar 4 Km. Lomba mekepung ini adalah lomba bergrup, dimana peserta terbagi atas Grup Barat dan Grup Timur. Sebagai pembatas antara group Barat dan Timur adalah sebuah sungai yang melintang ditengah - tengah kota Negara yang bernama Sungai Ijo Gading. Dalam lomba mekepung ini tidak ada juara perorangan hanya juara beregu.

Lomba Mekepung yang dilaksanakan sebagai even tetap yang selalu diadakan setiap tahun yaitu :

* Gubernur Cup
* Bupati Cup.

Lomba Mekepung Bupati Cup biasanya diadaka di sirkuit mekepung Pantai Dlod Berawah. Dalam pelaksanaan lomba ini selalu diiringi dengan musik Jegog dan tari Mekepung yang dibawakan oleh remaja putri Jembrana.


Lomba Dayung Sampan

Ditengah tengah kota Negara mengalir sebuah sungai yang bernama sungai Ijo Gading aliran sungai ini menuju ke Pantai Perancak. Setiap tahun pada bulan Agustus di sungai ini selalu diadakan lomba sampan dayung tradisional.

Start dilaksanakan di hilir sungai yaitu di Pantai desa Perancak dan finish di jembatan Ijo Gading. Pelaksanaan Lomba Dayung Sampan ini biasanya dikaitkan dengan peringtan Hari Ulang Tahun RI dan HUT kota Negara. Atraksi ini merupakan tontonan yang sangat menarik untuk wisatwan terutama pada saat start dan Finish.




Senin, 07 April 2008

Subak in Bali


(Source; balitravels.org)

Balinese have a very well organized and complex social & agricultural community which rooted in the Subak (farmers community) and Banjar (general social) organizations.

Everyone who owns paddy terrace must join the Subak community in their village, since basically this Subak assumes control over all aspect of paddy plantation planning.
Subak ensures that all of their farmers obtain a fair share of irrigation. Traditionally the head of Subak is appointed from a farmer whose fields are at the feet of the hill, thus irrigation will first pass through all other members’ fields prior to irrigate his own.

Yet another important corporate group is the agricultural society, or subak, each of which corresponds to a section of wet-rice paddies. Each subak is not only a congregation of members who are jointly responsible for sacrificing at a temple placed in the center of this group of rice paddies, but also a unit that organizes the flow of water, planting, and harvesting. Since fifty or more societies sometimes tap into a common stream of water for the irrigation of their land, complex coordination of planting and harvesting schedules is required. This complexity arises because each subak has become independent of all the others. Although the government has attempted periodically to take control of the irrigation schedule, these efforts have produced mixed results, leading to a movement in the early 1990s to return the authority for the agricultural schedule to the traditional and highly successful interlocking subak arrangement.

The very complexity of Balinese social organization has provided it with the flexibility to adapt to the pressures of modern life and its requirements for the accumulation, distribution, and mobilization of capital and technological resources. Although the Balinese remain self-consciously “traditional,” they have been neither rigid in that tradition nor resistant to change.